February 7, 2008...6:19 pm

Banjir dan Ekonomi

Jump to Comments

Hujan lagi.

Setelah hujan keterlaluan minggu lalu yang bikin banjir hanya dalam waktu sehari semalem, gue jadi punya alasan lebih banyak untuk tidak menyukai hujan. Sebenernya gue agak ga ngerti dengan orang-orang yang berpendapat kalo hujan itu romantis. Dari segi mana ya bok? Kalo lagi sendirian mah tetep aja ga romantis! *curcol, hahaha.

Well anyway, ada beberapa hal yang bikin gue ga suka hujan, seperti:

1. Cucian ga kering. Baju yang (harusnya) udah dicuci berhari-hari yang lalu dan niatnya mau dipake lagi, ternyata belom kering.

2. Macet. Semua pengemudi pasti berjalan lebih lambat. Pengemudi motor bahkan berhenti total di tempat-tempat yang TIDAK diperuntukkan untuk berteduh, seperti di bawah skywalk PIM yang bikin jalanan tambah macet. Belom lagi dengan genangan air yang kadang berlebihan dan membuat semua orang berhati-hati.

3. Sakit. Kalo keujanan, resikonya masuk angin. Kalo kena gerimis pun biasanya suka menyebabkan pusing atau sakit kepala. Jadi kepada pasangan-pasangan yang berniat untuk romantis, berada di bawah guyuran air hujan BUKAN cara yang baik.

4. Banjir. Terutama di negara kita tercinta ini. Semuanya jadi susah. Jalanan macet dan tidak bisa dilalui. Para korban butuh pangan-sandang-papan. Airport jadi ga bisa diakses dan menyebabkan delay dan cancellation pada penerbangan-penerbangan kita. Menurut gue, ini juga menyebabkan domino effect (caelah gaya banget gue) dan berakhir pada penurunan dalam performa perekonomian kita. Gila! Ok banget ga sih gue, bisa (sok) ngomongin perekonomian segala? Hahahaha. Anyway, maksud gue gara-gara banjir kan jadi banyak banget pekerjaan yang jadi ga bisa dikerjain. Misalnya pertanian dan perkebunan jadi ancur. Hasil perkebunan dan pertanian jadi berkurang, padahal dalam keadaan biasa aja kita udah kekurangan beras. Yang ada kita harus menambah quota impor (M). Terus bisnis jadi terhambat, produksi juga pasti berkurang. Berarti barang yang ma kita ekspor (X) pun berkurang. Toko-toko (terpaksa) tutup dan membuat penghasilan orang yang punya toko jadi menurun. Kalo udah gitu, si yang punya toko juga jadi ga bisa memenuhi kebutuhan hidup kan? Mereka jadi mengurangi konsumsi (C) -dan investasi (I) yang mungkin mau mereka buat, begitu juga dengan pelanggannya yang mengurangi konsumsi. Terus, pemerintah (G) jadi harus menguras kocek untuk ngebenerin keadaan, or at least try to. Sayangnya uang yang dibuang oleh pemerintah ini bukan untuk menjadi pendapatan orang lain, cuma untuk membenahi keadaan yang akan ancur lagi. Sekarang coba liat rumus dibawah. 

Y = C + I + G + (X-M),

(dimana Y = National Income, C = Household Consumption, I= Investment, G = Government Spending, X = Exports, dan M = Imports)

Nah, dari rincian diatas bisa diliat kalo G naik (kabar baik). Tapi, kabar buruknya adalah C, I, dan X malah turun dan M malah naek. Berarti, pendapatan nasional kita jadi menurun kan? Karena satu masalah yang dialami lagi dan lagi: Banjir.

Kepada Yth. Bapak Boediono,

Menteri Koordinator Perekonomian,

Di Tempat.

Dengan Hormat,

Pak, izinkanlah saya yang sedang menjalani semester keempat di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini untuk menggantikan posisi Bapak.

Hormat saya,

Syahnadiaz Sikar

5. Udara jadi dingin. Jadi pengen makan bakso. *iya, gue juga ga tau hubungannya apa.

6 Comments


Leave a Reply